Sejarah sains tidak selalu terang dan mulia.
Di balik penemuan besar yang menyelamatkan nyawa, ada masa ketika ilmuwan bermain dengan kematian.
Mereka percaya bahwa jika bisa memahami bagaimana kehidupan berhenti, maka suatu hari mereka bisa menyalakannya kembali.
Itulah awal dari era kelam eksperimen yang dikenal sebagai “resusitasi ekstrem” — usaha untuk menghidupkan mayat.
Beberapa dilakukan atas nama ilmu pengetahuan, sebagian atas nama keabadian, dan sebagian lagi… karena obsesi manusia untuk menolak kematian.
Mari kita menelusuri sejarah nyata eksperimen yang mengaburkan batas antara hidup dan mati.
Awal Ide Gila: Ketika Ilmuwan Percaya Kematian Bisa Dibatalkan
Abad ke-18 adalah masa ketika Eropa diliputi demam sains.
Ilmuwan mulai mempertanyakan hampir semua hal, termasuk kematian.
Banyak yang percaya bahwa kematian hanyalah gangguan sementara dalam tubuh — sesuatu yang bisa “diperbaiki” jika tahu cara menyalakan ulang kehidupan.
Salah satu pelopornya adalah Luigi Galvani, dokter Italia yang menemukan bahwa otot katak bisa bergerak jika dialiri listrik.
Eksperimennya dikenal sebagai “galvanisme.”
Temuannya mengguncang dunia sains — kalau otot bisa digerakkan setelah mati, apakah itu berarti tubuh bisa dihidupkan kembali?
Pertanyaan itu segera berubah menjadi obsesi.
Giovanni Aldini: Ilmuwan yang Mencoba Menghidupkan Mayat Manusia
Giovanni Aldini, keponakan Luigi Galvani, melangkah lebih jauh.
Ia percaya listrik bukan hanya bisa menggerakkan otot, tapi juga menghidupkan manusia yang sudah mati.
Tahun 1803, di hadapan ratusan orang di London, Aldini melakukan demonstrasi publik.
Ia menggunakan tubuh seorang penjahat yang baru dieksekusi, George Foster, yang digantung pagi itu di Penjara Newgate.
Dengan menghubungkan kabel listrik ke berbagai bagian tubuh, Aldini menyalurkan arus ke otot Foster.
Yang terjadi membuat penonton menjerit ngeri:
- Wajah Foster mulai bergerak.
- Matanya terbuka.
- Tangan dan kakinya kejang-kejang, seolah mencoba bangun dari meja.
Beberapa orang percaya Foster hidup kembali.
Tapi tentu saja, itu hanya reaksi listrik.
Meski gagal membangkitkan nyawa, eksperimen itu menandai awal ilmu kedokteran listrik.
Dan menjadi inspirasi langsung bagi novel klasik “Frankenstein” karya Mary Shelley.
Mary Shelley dan “Frankenstein”: Ketika Fiksi Terinspirasi Fakta
Novel Frankenstein yang terbit tahun 1818 bukan sekadar cerita horor.
Mary Shelley menulisnya setelah menyaksikan eksperimen galvanisme dan mendengar kisah Aldini.
Ia menggambarkan seorang ilmuwan yang berhasil “mencuri api kehidupan” dan menciptakan manusia dari potongan mayat.
Bagi publik masa itu, novel ini terasa terlalu realistis.
Karena di dunia nyata, eksperimen semacam itu benar-benar terjadi.
Mary Shelley sebenarnya sedang memperingatkan dunia:
“Mungkin sains bisa menghidupkan tubuh, tapi tidak bisa menghidupkan jiwa.”
Sayangnya, justru karena karyanya, banyak ilmuwan muda terinspirasi untuk mencoba hal yang sama.
Andrew Ure: Dokter yang Membuat Mayat ‘Bernafas’
Beberapa dekade setelah Aldini, seorang dokter Skotlandia bernama Andrew Ure melakukan eksperimen serupa pada tahun 1818.
Ia menggunakan tubuh seorang pria yang baru digantung karena membunuh istrinya.
Ure menyuntikkan arus listrik ke dada dan wajah si mayat.
Hasilnya:
- Dada mayat naik turun seperti bernafas.
- Wajahnya berekspresi seperti “terbangun dari tidur.”
- Bahkan, satu tangan terangkat seolah meminta ampun.
Para saksi histeris. Banyak yang lari keluar ruangan.
Ure mengklaim bahwa ia nyaris menghidupkan kembali manusia.
Namun karena ketakutan publik, eksperimennya dilarang.
Meski begitu, temuannya berkontribusi pada pengembangan defibrillator di abad ke-20 — alat listrik yang benar-benar bisa menyelamatkan nyawa dari henti jantung.
Ironis, dari eksperimen menyeramkan, lahir alat yang kini digunakan di setiap rumah sakit.
Eksperimen Soviet: Dari Kepala Anjing Hidup Sampai Tubuh Manusia Beku
Pada 1930-an, Uni Soviet menjadi rumah bagi eksperimen paling kontroversial tentang hidup dan mati.
Ilmuwan bernama Sergei Bryukhonenko menciptakan mesin bernama autojektor, versi awal dari mesin jantung-paru modern.
Dalam eksperimen mengerikan yang direkam dalam film dokumenter, ia memisahkan kepala anjing dari tubuhnya, lalu menghubungkannya ke mesin autojektor.
Kepala itu — yang terlepas dari tubuh — terlihat hidup.
Matanya berkedip, lidah menjilat, bahkan merespons suara.
Eksperimen ini memicu debat etika besar di dunia ilmiah.
Namun dari proyek itu lahirlah teknologi penting dalam operasi jantung terbuka dan resusitasi medis.
Di sisi gelap lain, ada rumor bahwa eksperimen serupa dilakukan pada tahanan politik — meski bukti historisnya sangat minim dan banyak dihapus dari arsip Soviet.
Eksperimen Amerika: Dari Laboratorium ke Zombie Science
Selama Perang Dingin, Amerika juga terobsesi dengan menghidupkan jaringan mati.
Militer bahkan mendanai proyek yang dikenal sebagai Project MK-NAOMI, yang mengeksplorasi potensi membangkitkan hewan mati untuk tujuan medis (dan militer).
Sementara itu, ilmuwan lain seperti Robert E. Cornish dari University of California mencoba menghidupkan hewan yang mati dengan darah buatan dan terapi oksigen.
Ia berhasil membuat anjing yang sudah mati beberapa menit bergerak dan bernafas kembali, meski hanya sesaat.
Cornish kemudian mencoba mendapatkan izin untuk menguji pada manusia yang baru dieksekusi.
Permintaannya ditolak.
Namun upayanya menunjukkan betapa tipisnya garis antara penelitian ilmiah dan eksperimen kematian.
Era Modern: Sains dan Ambisi Mengalahkan Kematian
Di abad ke-21, ide menghidupkan mayat berubah menjadi proyek ilmiah yang lebih halus — tapi tetap menimbulkan perdebatan moral.
Beberapa penelitian menargetkan pemulihan fungsi otak setelah kematian klinis.
Tahun 2019, tim ilmuwan dari Yale University berhasil menghidupkan kembali aktivitas sel otak babi beberapa jam setelah kematiannya menggunakan sistem bernama BrainEx.
Otak itu tidak benar-benar “hidup,” tapi beberapa jaringan masih aktif secara elektrik dan metabolik.
Temuan ini mengguncang dunia medis.
Karena jika sel otak bisa “dinyalakan ulang,” maka definisi kematian itu sendiri harus ditinjau ulang.
Sementara itu, perusahaan biotek di India sempat mengumumkan proyek “ReAnima” — untuk mempelajari apakah pasien mati otak bisa diregenerasi melalui kombinasi sel punca dan stimulasi saraf.
Namun proyek itu dihentikan karena alasan etika.
Meski teknologi semakin maju, dunia masih sepakat pada satu hal:
membalikkan kematian berarti bermain di wilayah Tuhan.
Antara Keinginan dan Ketakutan: Mengapa Manusia Tak Pernah Berhenti Mencoba
Kenapa manusia terus mencoba menghidupkan yang mati?
Jawabannya sederhana: takut kehilangan.
Ilmu pengetahuan selalu lahir dari rasa ingin tahu, tapi di balik eksperimen paling gelap selalu ada sisi emosional — kehilangan orang tercinta, penyesalan, atau ketakutan menghadapi akhir.
Dalam setiap percobaan menghidupkan mayat, yang dicari bukan sekadar nyawa, tapi makna hidup itu sendiri.
Apakah manusia hanyalah reaksi kimia?
Apakah kesadaran bisa dihidupkan seperti mesin?
Pertanyaan itu masih menghantui dunia modern.
Kesimpulan: Kematian yang Tidak Pernah Mati
Dari laboratorium Aldini di abad ke-18 hingga riset neurologi abad ke-21, manusia terus mencoba membalikkan kematian.
Dan meski sejauh ini belum berhasil, batas antara hidup dan mati semakin kabur.
Yang dulu dianggap mustahil kini jadi penelitian sah.
Tapi pertanyaannya bukan lagi “apakah kita bisa menghidupkan mayat?”
Melainkan, “haruskah kita melakukannya?”
Karena mungkin, dalam usaha melawan kematian, manusia justru kehilangan arti kehidupan itu sendiri.